Dijerit-pekik takde yang dengar... Lalu kupetik huruf, kususun-susun jadi bahasa hati. Ini hati aku, ini jari aku... This is My Moonlight Sonata~

Wednesday, June 29, 2011

Gadis Tebing Sungai..

Seorang Gadis, di tebing sungai.
Duduk. Kaki terendam di dalam air.
Sunyi. Itu dunianya.
Sepi. Itu darahnya. 

Hari ini digores-gores batu kecil di atas batu besar.
Hari esok diketuk-ketuk batu kecil di atas batu besar.
Hari-hari semalam, itulah ibadahnya.
Selain dari mendiam. Selain dari menangis.

Nun jauh di seberang sungai ada warung,
...dan Pria.
Hari ini dia ternampak Gadis.
Esok dia terlihat Gadis.
Malam-malam kelmarin sudah diintainya Gadis.
Tapi Gadis tidak sedar.

Kenapa perlu ada kehidupan kalau di akhirnya manusia tetap dijenguk kematian?
Kenapa perlu ada hujan kalau penyudahnya adalah kebanjiran?
Kenapa perlu ada embun kalau nantinya pagi menjengah dan embun berubah?
Kenapa perlu ada manusia kalau kebanyakannya terdiri daripada pemusnah?
Dan kenapa perlu ada cinta jika ia adalah perosak terbesar jiwa?

Gadis mengeluh lagi.
Lelah bertanya tanpa mendapat jawapannya.
Sekonyong-konyong seketul batu berbungkus kertas terjatuh ke riba.
Aneh, ada tali terikat pd batu bersurat.
Gadis mengangkat batu dan tali menegang.
Nun jauh di hujung sana Pria memegang hujung tali sambil tersengih.

Dengan wajah muram - tali dilerai, kertas dibuka dan dibaca,
"Jangan sering-seringnya merendam kaki di dalam air. Lama-lama nanti kecut, kamu akan cepat kelihatan tua kerananya. Salam kenal, Pria.."

Gadis terpana dan terkesima. Melumur jemari dengan tanah lalu diukir tulis-balasan;
"Melontar batu sebegitu besar. Mahu membunuh sayakah?"
Gadis mengikat kertas pada batu. Kembali dilontar pada Pria.
Pria membuka dan membaca lembaran kertas lalu ketawa.

"Kamu punya tulisan yg comot dan hodoh."
Gadis meronyok kertas dengan seribu rasa.
"Itu kerana saya menulis pada kamu tanpa rela."
Lagi-lagi Pria tertawa.

Batu mendarat hampir di kepala Gadis. Mujur, kecil sedikit batunya.
Gadis menayangkan buku lima pada Pria. Hahaha - Pria ketawa.
"Hairan. Saya tak pernah suruh kamu balas. Jadi, siapa yg maksa?"
Gadis menunduk, mengambil anak-anak batu di dlm air lalu melemparkan bertubi2 ke arah Pria. 
Sekuat hati dihayun moga-moga dapat ia menyakiti Pria, tapi Pria tak berganjak melainkan terus tertawa dan tertawa. 
Pria tertawa kerana tahu jarak antara mereka memustahilkan balingan Gadis mengena.
Pria tertawa kerana ia tahu kalau-kalau di saat ini Gadis pasti terlalu ingin mencekik lehernya.

Pria berpaling dan berlalu pergi. Gadis lega.
Tapi lagi Gadis menyesali nasibnya.
Lagi-Lagi Gadis mengeluh dengan takdirnya.
Lagi, lagi dan lagi Gadis menangisi hidupnya.

Senandung puji-pujian, kesyukuran dan rayuan bergema tiba-tiba.
Menusuk dalam-dalam rongga anggota.

Gadis mendongakkan wajah dan terlihat Pria di kejauhan sana.
Pria menabur risalah-risalah doa,
Pria menyebar wasilah mengenal Pemegang Cakerawala,
dan menyampaikan sabda penghulu umat manusia.
Penikmatnya ahli-ahli fikir,
Khalayaknya para pengenal diri.

Pluppp! Seketul-entah-apa terjatuh di hadapannya dan air memercik di wajah Gadis, mematikan lamunan.
Gadis mengangkat muka dan terlihat Pria.
Pria membaling entah-apa untuk memanggilnya.
Pria melayang-layangkan tali yang diikat dengan batu seperti cerita cowboy dulu-dulu.
Kali ini Gadis bersedia menyambut.
Bimbang batu mendarat di kepala.

"Kamu mengintip saya?" - Pria.
Batu berganti tangan.
"Tiada sebab utk saya mengintip anda" - Gadis.
Batu terbang lagi.
"Rindu, mungkin?"
Gadis mengangkat muka memandang Pria.
Tanpa membalas Gadis menjelirkan lidahnya.
Dan masih, Pria hanya ketawa-suka.

Bulan menunjukkan rupa. 
Gadis di birai jendela.
Kelibat Pria di mana-mana di seberang sana.
Gadis tidak dapat melelapkan mata.
Saat ini Akal dan Hatinya melancarkan perang saudara.
Tanpa sedar telah dikenali Pria selama beberapa purnama.
Selama itu juga,
Gadis tidak berendam dalam air mata.
Gadis sudah tersenyum semula..

---------------------------------------------------------------------------- @@

Gadis terus hanyut dalam dunianya,
menopang dagu,
meneliti ukiran batu yg dibuat dulu,
dan dia keliru..

Pria menabur risalah-risalah doa,
Pria menyebar wasilah mengenal Pemegang Cakerawala,
dan menyampaikan sabda penghulu umat manusia.
Penikmatnya ahli-ahli fikir,
Khalayaknya para pengenal diri.

Gadis jadi sayu.
Hati Gadis sendu.
Rohaninya Pria sentuh.
Ada yang Pria bawa membuka mata,
Ada yang Pria kata mencuci jiwa.

Kapal terbang kertas berenjin batu tiba diribaannya;
"Hey.. Kamu tahu kerjaanku?" - tertulis di badan kapal terbang.
Gadis menggeleng pada Pria di seberang sana.
Pria memberi isyarat agar Gadis membuka lipatan kertas untuk mencari jawapannya.
"Aku bertugas menjaga perut. Kalau terlebih jaga orang-orang bisa gendut".
Kali ini Gadis tertawa. Kali pertama semenjak sekian lama.
Kapal terbang bertukar tangan.
"Kamu perli saya?"
"Saya tak mahu berkomentar tentangnya tapi ada yang kata, bentuk fizik mempengaruhi tahap keintelektualan manusia. :)  "

Pria berpaling dan pergi.
Dari kejauhan, Gadis melihat Pria berbual-bual dengan Wanita.
Sering-seringnya Gadis melihat Pria melayani insan-manusia,
tetapi kini sang Wanita.. ada di hampir setiap sela masa.

------------------------------------------------------------------------------------- @@

Gadis di sini.
Pria di sana.
Masing-masing kehilangan kata.
Tapi keduanya di tebing sungai.
Menemani satu sama lain dalam kebisuan.

"Kenapa perlu ada kehidupan kalau di akhirnya manusia tetap dijenguk kematian?" - Gadis.
Kertas dilipat dan Pria tersenyum pada Gadis.
"Tanya Tuhan". - Pria.
Gadis diam lagi. Tapi tak berputus asa.

"Kenapa perlu ada hujan kalau penyudahnya adalah kebanjiran?"
Pria memulangkan semula kertas tanpa mencatat. Yang ada cuma tulisan tadi -
"Tanya Tuhan".
Gadis tidak berpuas hati.

"Kalau Tuhan di depan saya telah saya tanya semuanya. Saya memerlukan jawapan..
Kenapa perlu ada embun kalau nantinya pagi menjengah dan embun berubah?
Kenapa perlu ada manusia kalau kebanyakannya terdiri daripada pemusnah?
Dan kenapa perlu ada cinta jika ia adalah perosak terbesar jiwa?"
Gadis memasam muka. Pria tersenyum cuma di sana.

"24434. Itu nombor Tuhan. Sila hubungi dan tanya sendiri".
Pria berlalu sesudah itu, 
Gadis ditinggalkan masih dalam keliru.

Pria menabur risalah-risalah doa,
Pria menyebar wasilah mengenal Pemegang Cakerawala,
dan menyampaikan sabda penghulu umat manusia.
Penikmatnya ahli-ahli fikir,
Khalayaknya para pengenal diri.

Sebelum matahari menunjuk diri Gadis sudah menanti.
Wajahnya bersinar. Senyumnya mekar.
Lelah mencari jawapan pada apa yang Pria tinggalkan,
akhirnya Gadis mengerti yg tersirat.
Hari ini, dia ingin ketemu Pria dan berterima kasih.
Gadis ingin jadi yg pertama dijenguk Pria,
Gadis ingin jadi yang pertama menanti Pria,
Gadis ingin jadi yg mula-mula menyapa Pria.
Tapi Gadis telat. Di sana, Wanita telah tunggu Pria.
Wanita seringnya menjenguk Pria dan menyapa-nyapa.
Hampir di setiap ruang waktu Wanita di sana.
Gadis jadi sebal.
Apalagi bila lihat Pria gembira dengan Wanita.
Apalagi bila melihat Pria bahagia di sana.

--------------------------------------------------------------------------- @@

Terhidu saja kelibat Pria dia berlari menyembunyikan diri.
Sesekali dia tahu Pria menjenguk.
Tapi dia mematikan diri di balik pohon meranti.
Setelah Pria beredar barulah dia keluar.
Tidak tahu kenapa harus dilakukan itu,
yang pasti dia berasa iri dan terasa hati..
Terasa diri kerdil dan terpencil..
Terutamanya bila melihat senyum dan senda tawa Pria sama Wanita,
yang selama ini dikongsi hanya mereka.

Tapi Gadis tersenyum sendiri..
Dia bahagia melihat Pria bahagia dan punya teman bicara selain dia.
'Bahagia itu wujud dalam kebahagiaan itu sendiri'.
Pria pernah berkata begitu.
Dipanjatkan doa dalam hati,
moga-moga Pria bisa memaafkannya,
atau mungkin saja Pria tidak peduli..

Tiba-tiba bahunya dicuit.
Gadis berpaling. Melopong dia melihat.
"Kamu sihat Gadis?"
Gadis cuma mengangguk. Untuk apa Jejaka muncul semula dalam hidupnya.
Gadis gusar.
"Menanti Pria kah?"
Gadis mengangkat wajah. Dahinya berkerut.
"Saban hari saya mengintip kamu dari belakang pepohon sana."
"Sejak bila?" - Gadis
"Dah lama." - Jejaka
"Kenapa?" - Gadis
"Saya rindu kamu, Gadis. Tapi saya lihat kamu akrab dengan Pria.
Saya bimbang kalau kehadiran sy menganggu kamu dan dia."
Gadis tersenyum dan menggeleng. 
"Dia cuma teman biasa.." Mata Gadis berkaca.

Ternyata Tuhan punya rencana.
Kita umpama sketsa kehidupan dan Dia pengarangnya.
Pabila ada harapan dipatahkan,
dijelmakan peluang lain jadi sandaran.
Tapi soalnya.. adilkah dia menjadikan Jejaka hanya sebagai sandaran?
Benarkah tindakan yang diambil semata-mata kerana merasa diri tidak diperlukan?
Untuk seketika Gadis lapang. Untuk beberapa waktu dia berjaya menjauhi Pria.
Kehadiran Jejaka membantu dia mengalih pandangan.
Ada ketika dilihatnya Pria ke tepian seperti biasa,
tetapi dia pura-pura tidak melihat,
dan terus berbicara mesra dengan Jejaka.

"Gadis.."
Kosong.
"Gadis.." Kali ini Jejaka mencuit.
"Ya Pria.. Apa yang Pria kata tadi?"
"Saya Jejaka, Gadis.."
Gadis terkelu. Kenapa nama Pria yang harus keluar dari bibirnya?
Dia tahu dia terguriskan perasaan Jejaka.
Dia tahu dia melukakan Jejaka.
Tapi sebenarnya.. Dia pun sedang terluka..
Maafkan aku Jejaka..

______________________________________________ @@

Hari ini Jejaka tidak muncul.
Marah, mungkin.. 

Tangan Gadis menggosok permukaan batu besar yang dilakar dulu,
tulisan itu ternyata sudah mula berlumut.
Lakaran itu digores dengan batu, makanya tidak akan hapus dek waktu.
Lakaran itu juga permintaannya pada Tuhan
tapi Tuhan malah menurunkan keajaiban sejurus habis sahaja dia buat permintaan.
Gadis memanjat atas batu dan melabuhkan duduk seperti biasa,
tapi eh.. ada batu bergumpal kertas di sana.

..Bagus...
aku melihatmu sudah punya teman baru...
Kata-katanya bisa menggantikan diriku.
Bahkan bisa melampaui dalam bait-baitku
Bahkan aku lihat
Canda tawanya bisa mewakili diriku.
Bahkan aku lihat 
senyumnya lebih manis dari senyum ku....

Itu benar tulisan Pria.
Tapi Gadis tidak tahu sama ada titipan itu ditujukan untuknya.
Gadis membaca berulang kali. Cuba menebak Pria memberi untuk siapa, dan mengapa?
Gadis turun dari batu. Ada sesuatu kakinya terpijak.
Gadis menjongkok dan ternyata ia sekeping lagi kertas-batu.

Menemui Gadisku,
Kenapa kamu kelihatan tegang dan dingin denganku, Gadis?
Apakah kerana jawapan yang kuberikan padamu dulu?

Gadis..
Sebelum membuat keputusan menyapa kamu,
telah lama aku perhatikan kamu..
Saban hari aku terlihat keluhan,
Saban waktu air sungai mengalir membawa air matamu,
Saban masa kamu memahat batu besar itu penuh kemarahan..
Kenapa Gadis? Apa yang kamu luahkan?

Gadis.. 
Untuk kesemua soalan aku menyuruh kamu bertanya pada-Nya kerana,
kamu cuba untuk mempersoal Qada' dan Qadar Tuhan..
Maka aku bukanlah orang yang tepat untuk menjawab mewakili-Nya melainkan sekadar mengingatkan..
Tapi suatu perkara yang ku tahu, Gadis..
bila kamu tanya kenapa perlu ada cinta bila ia merupakan perosak terbesar jiwa,
maka jawapanku ialah kerana, cinta jugalah penawar terbesar bagi insan-insan yang telah dirosakkan jiwanya...

Gadisku..
Hidup ini umpama gelas yang separuh terisi,
Jangan terlalu fokus pada bahagian gelas yang kosong
bila kamu masih ada sebahagian gelas yang sudah diisi..
Jangan pernah berhenti berharap pada Rahmat Illahi..

Gadis menangis..
Ada keinsafan terbentuk dalam-dalam sudut hatinya,
ada kekesalan terbit dari ufuk jiwanya.
Dalam mencari dia sering tersasar dari jalanan,
dan dia bersyukur mengenali Pria yang sentiasa membantu dia mengenal jalan.

Gadis galau dari segenap sudut perasaan.
Gadis lalu teringat yang Pria pesan.
2 di waktu Subuh,
4 di kala Zuhur,
4 masa Asar,
3 pada Maghrib,
dan 4 dalam Isya' didail..
Gadis perlu bicara dan merayu pada Tuhan..

---------------------------------------------------------------------- @@

Bertemu tanpa bersua,
Bicara tanpa suara..

Salam Pria..

Benar, saban hari aku menangis seperti yang terlihat.
Benar, saban hari aku meluahkan amarahku yang teramat.

Sesungguhnya Pria,
Jika aku ini kertas.. maka aku adalah kertas yang sudah tidak kosong.
Dadaku penuh corat-coret yang terlihat kotor dan comot,
seperti tulisan-tulisanku yang pernah kamu tegur dahulu.

Sesungguhnya Pria, 
Jika aku ini kain.. maka aku adalah kain yang sudah tidak bersih.
Bidangku penuh berlumut dan koyak-rabak,
Seperti kain pengelap yang kamu gunakan buat membersihkan meja dan lantai.

Sesungguhnya Pria,
Jika aku ini perahu.. maka aku adalah perahu yang jahanam.
Tubuhku hampir hancur dimamah panas dan hujan,
mereput habis diinjak mereka yang hendak ke seberang dan dipukul badai.

Yang ku marah masa laluku,
Yang ku benci kejahilan-kejahilanku,
Yang ku tangisi kekontanganku..

Pria..
Aku adalah sang buta yang terjatuh ke dalam jurang yg dalam dan hitam,
Beberapa kali aku cuba naik ke tebing tapi gagal..
Banyak tangan cuba menarikku tapi setelah melihat kebutaanku,
mereka malah kembali menolakku ke dalam jurang itu.
Sesungguhnya..
Aku si buta yang tak bermata,
Aku si buta yang tak bertongkat,
Aku si buta yang telah jauh tersesat..

Aku di sini dengan niat memencil diri.
Saban hari kamu terlihat aku di situ,
memahat di batu merayu-Nya dengan kata;
"Tuhan, tolong jangan beri ruang untuk mana-mana pria mendekatiku.."
Aneh sekali, aku mengambil masa lebih setahun menggores batu dengan doa itu tapi kamu tidak mendatangiku.
Usai sahaja aku pahatkan noktah terakhir,
malah kamu melemparkan Salam Perkenalan untukku.
Dan lebih aneh kerana, yang aku pohonkan padaNya agar dijauhkan 'pria-pria' dari hidupku,
tapi dia malah menghantar kamu Pria, untuk memerliku..

Pria..
Aku adalah wanita yang hina dan tidak layak utk mendapat kasih siapa-siapa bahkan dari-Nya.
Tapi aku benar sungguh ingin mengutip sisa-sisa peluang yang ada untuk mencari keredhaan-Nya.
Aku sedang berusaha kembali mencari jalan-jalan yang lurus dan kembali kepada-Nya..
Tapi aku lupa aku ini si buta..
Aku memerlukan mata,
Aku memerlukan tongkat,
Aku memerlukan tangan utk memimpinku agar tidak lagi tersesat..
Kerana itu ku anggap pertemuan kita suatu rahmat..

Tapi Pria,
Bila kamu didatangi Wanita aku jadi tidak kuat.
Bukan aku cemburu atau iri,
tapi mereka membuat aku terasa sangat kerdil dan tidak pantas mendampingimu..
Melihat senyummu bersama mereka membuatku kalah..
Membuat aku terasa lemah..

Pria..
Dari kata terakhir aku rungkaikan,
Maafkan aku kerana menjauhimu..
Sesungguhnya, aku menjauh bukan kerana aku membenci,
tapi aku menjauh kerana aku mencintaimu..
Benar Pria, aku pernah berjanji dengan diri untuk tidak jatuh cinta lagi,
melainkan dengan insan yang melabuhkan cintanya pada Illahi,
dan aku yakin kamulah insan itu tapi aku tidak layak untuk kamu..
Izinkan aku pergi Pria, dan ku mohon kau halalkan segala perasaanku terhadapmu..

Yang benar,
Gadis..

Gadis melontar batu ke seberang.
Mungkin itu lontaran terakhir darinya buat Pria.
Dia tak mengharapkan jawapan,
tapi dia akan sering berulang ke sini menanti balasan dan..
jika Pria tidak mencintainya pun,
Gadis tetap tidak akan berputus asa mengharapkan rahmat Tuhan..




hatilukajadipuisi,
Ezureen Azmi,
13 Februari 2011,
5.50 am..

No comments: